Di antara Petir dan Doa

Di antara petir dan doa, malam itu langit kampungku menangis deras. Hujan turun tanpa henti, mengguyur bumi hingga semua terasa beku dan sunyi.Di rumah bidan yang sederhana, suara tangis dan jeritan ibu memecah malam.

Bidan berusaha sekuat tenaga, tapi waktu terus berjalan dan aku belum juga lahir ke dunia.

Ibu semakin lemah, napasnya tersengal.Ayah mondar-mandir dengan wajah cemas, tak tahu harus berbuat apa.

Bidan menatapnya penuh harap, lalu berkata pelan,

“Kita harus segera ke rumah sakit, sebelum terlambat.”

Tapi di kampung kami tak ada ambulans. Dan malam itu, semua orang sudah tertidur.

Dengan pakaian yang sudah basah kuyup, ayah keluar menembus hujan.Ia berlari di antara kilat dan angin, mencari mobil bolak-balik ke sana kemari.Mengetuk setiap pintu, berharap ada yang mau menolong.Namun hampir semua rumah tertutup rapat orang-orang takut keluar karena kabar pencuri organ tubuh yang beredar malam itu.

Tapi ayah tidak menyerah dengan langkah gontai dan doa yang terus ia bisikkan di bawah derasnya hujan, ia terus mencari hingga akhirnya, satu pintu terbuka.

Seorang bapak keluar dengan wajah prihatin. Tanpa banyak tanya, ia menawarkan bantuan dan segera menyalakan mobilnya. Ayah berterima kasih berkali-kali, lalu bergegas kembali ke rumah bidan.

Ibu segera dibawa masuk ke dalam mobil. Teteh menggenggam tangan ibu erat-erat, menahan tangis di antara suara petir yang terus bersahutan.Bapak yang baik hati itu menyetir dengan hati-hati di jalan gelap dan berlubang menuju rumah sakit Bungo, sementara ayah tak henti-hentinya berdoa lirih, berharap ibu dan aku selamat.

Setelah perjalanan panjang yang penuh cemas, mereka akhirnya tiba. Dokter datang tergesa-gesa, meminta maaf karena terlambat.Ibu hampir kehilangan tenaga, tapi dengan izin Allah aku lahir dengan selamat.

Tangisku menggema di ruang bersalin malam itu,

menyatu dengan suara hujan yang masih turun di luar jendela.

Ayah dan ibu menangis, bukan karena sedih, tapi karena bahagia di tengah gelap dan badai, kehidupan baru akhirnya hadir.

Malam panjang itu menjadi saksi, bahwa kasih sayang orang tua adalah pengorbanan yang suci dan tak tergantikan. Dari hujan, petir, dan gelapnya malam, aku lahir bersama doa dan cinta yang tulus.

Cerita perjuangan kelahiran seorang anak perempuan bernama Hafiza Illahu Karamah siswa kelas IX.1 MTsN Dharmasraya. Mempunyi hobi bermain basket, mendengarkan musik, dan menulis. Penyuka warna pink dan krem. Saat dewasa nanti bercita-cita menjadi CEO, wanita karir.

Fide Baraguma
Fide Baraguma Ibu dari dua jagoan hebat yang mengabdi diperbatasan Sumatera Barat dan Jambi

Posting Komentar untuk "Di antara Petir dan Doa"